Perjuangan di saat Sekolah (Catatan di Hari Ibu)

 

Saat kakak tak mau masuk sekolah
Dasar…Mama..minta saya menggantikan untuk duduk dikelas, tapi saya harus
menangis pulang karena setelah duduk di  kelas, tiba-tiba kakakku masuk ke kelas yg
sama.

Saya
adalah anak ke-5 dari 9 bersaudara dari keluarga sederhana, diamana
ayah adalah seorang petugas pemadam kebakaran atau Brandweer.

Seiring berjalannya waktu dengan gaji yang cukup 1 minggu ditambah 115 kg beras
pembagian, saya tumbuh dibesarkan, melewati waktu…yg setahu saya…mama yg
tidak lulus SD..mengatur keuangan keluarga…yg entah bagaimana…tapi seingat
dan setahu saya…saat terima gaji…lalu diselesaikan hutang2 bulan lalu, jual
sebagian beras…untuk menvukupi kebutuhan bulanannya…tanpa ada tambahan
pendapatan seorang petugas Brandweer…
Waktu berjalan seperti air sungai
mengalir…hingga suatu saat..saya tamat SMA, melamar di
Universitas Tarumanegara,diterima sebagai calon mahasiswa arsitektur dan saat kewajiban
membayar 200ribu sebagai uang masuk universitas.
Mama akhirnya…bilang..”mama sudah cari kiri kanan…tapi tidak dapat pinjaman….dan saya .namun….rencana
Tuhan ..bukan rencana kita.

Tanggal 10 november 1975 tiba-tiba  surat undangan
datang dari IPB..saya diterima sebagai calon mahasiswa IPB lewat program
PerintisII (tanpa  ujian masuk)…dan bayar 10ribu untuk SPP 1 tahun…sekali
lagi..peran Mama…untuk cari utang…dan puji Tuhan..ada tetangga yang baik
hati….berbekal 10 ribu plus Rp 200sebagai ongkos..saya bawa ke IPB langsung
menerima kartu mahasiswa tanpa berfikir mau jadi apa saya kelak yang penting
saya menjadi mahasiswa.
Lewat 6
bulan lepas semester pertama masuk awal semester ke-2,  minggu sebelum
saat memulai ujian kimia di hari sabtu Mama ke Bogor
sendiri membawa beberapa bacang. Saya kaget dan terharu.

Saya
bertanya,”kok Mama sendiri ke Bogor? 

“Cici
loe..gak mau anter…tapi mama mau bawain elo bacang..jadi Mama pegi sendiri
aje,” jawab Mama dengan logat betawi yang kental.

Rupanya itulah pertemuan terakhir saya dengan Mama. Sabtu pagi-pagi benar jam
04.20 saya kaget terhenyak karena datang beberapa orang. menjemput saya sambil bilang “Mama sakit keras”. Saya diminta
pulang saya masih belum tersadar. Tiba di RSUP mama sudah dibawa
pulang dan sesampai di rumah Mama sudah pergi selamanya.

Mama pergi sebelum saya membalas jasanya. Mama pergi dengan kasih sayangnya.
Mama pergi
sebelum melihat putranya berhasil.

Selamat Jalan Mama.
Saya berjanji
untuk  membalas budi baikmu dengan menjadi saluran berkat yang diberikan TUHAN
kepada saya.

Tak terasa sudah 39 tahun Mama pergi dengan Damai.
Saya yakin  Mama sudah bahagia bersama BAPA di surga.
SELAMAT HARI IBU.

Olan Sebastian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *