“Negeri PARA CELENG”(sumber :rumahfilsafat.com)
Pada akhir sebuah pentas Wayang Kulit, Dalang Ki Manteb Sudarsono dan semua kru menggunakan topeng celeng, dan berteriak : LENGJI…LENGBEH…Celeng Siji..Celeng Kabeh” (celeng satu, celeng semua)Ternyata, Lengji Lengbeh adalah ramalan era reformasi yang semula diharapkan sebagai pintu masuk zaman baru, ternyata “Pamiyaking Warana (pembuka tabir misteri) yang menyatakan siapakah sesungguhnya Bangsa ini? Pejabat yang dikira bersih ternyata penuh korupsi. Bangsa kini dicacah-cacah dengan pertengkaran, perselisihan, perseteruan,dan perpecahan.Kekerasan, tawuran, perang tanding elit, saling telikung antar pilar politik dan saling balas dendam, negara seakan tidak hadir, tidak ada. Anggota DPR meninggalkan tugas, berubah fungsi, menawarkan diri untuk mendapatkan komisi, absen berkelanjutan dengan alasan sakit. Adapula yang pergi dengan alasan lupa ingatan. Ada yang minta saham. Bayangkan! Jangankan mengangkat martabat bangsa, mengangkat martabat sepak bola saja tidak bisa.Rakyat merana karena pemimpin dan pemuka rakyat sudah kehilangan rasa malu. Ketika serapah Lengji Lengbeh, agama pun dikomersialkan untuk memainkan kekuasaan. Terjadilah ramalan Trajuningtyas (timbangan bathin) dalam ajaran Sabdo Palon bahwa Allah mung kanggo boreh (sebagai jaminan), kanggo kakudung, kanggo pawitan, kanggo aling-aling sepoto, kanggo bregas-bregasan, kanggo gaib-gaiban, kanggo golek brekatan, kanggo menang-menangan, kanggo suci-sucian, kanggo bagus-bagusan, kanggo becik-becikan. Dengan kata lain agaman sebagai topeng belaka.Orang mengucapkan nama Tuhan hanya untuk mengais rejeki tetapi tidak sedikitpun manut miturut, nggugu mituhu, marang pepacuhing Allah (tunduk tawaduk berpegang pada petunjuk Allah).Serapah lengji lengbeh membuat daya agama lumpuh, mental manusia anjlok hingga benarlah kata pujangga Ronggowarsito dalam serat Joko Lodhang :wong alim-alim pulasan, njaba putih, njero kuning, ngulama mangsah maksiat.Selama 32 tahun bangsa ini dicekam ketakutan berpolitik dan ketika reformasi tiba ternyata kita belum membentuk Nation of Citizen kita masih dikendalikan oleh kekodratan kita yang primitif. Para pemimpin menjalankan politik secara primitif, kasar dan tidak berkeadaban menjalankan politik salah kedaden layaknya celeng gontheng menubruk kesana kemari sampai memasuki dan menodai bidang yang pribadi dan agama.Ternyata kita belum membentuk Nation of citizen. Ternyata harapan founding father kita, Bung Karno untuk melaksanakan NATION & CHARACTER BUILDING masih Sangat Jauh dari harapan bahkan nyaris hanya menjadi angan-angan. Untuk keluar dari kemelut ini bukan dari pertolongan kuasa gaib, melainkan dengan tekad MEMBANGUN Bersama BANGSA ini.Pertanyaannya sekarang masih maukah kita membangun bangsa dan karakter bangsa yang bermatabat dan beradab? Jika kehendak itu tidak ada lagi di jiwa bangsa ini, sangat mungkin lengji lengbeh sebagai permufakatan jahat akan kembali. Mudah-mudahan itu tidak terjadi.Bung Karno bilang:”Kemerdekaan yang hakiki adalah Kemerdekaan Hati rakyat Indonesia!!!Olan Sebastian.Roweseneng, Jawa Tengah, 3Januari 2016DRH. OLAN SEBASTIAN MM