Bisakah Domba dan Kambing Sebagai Sumber Protein Hewani?

 

Menanggapi ajakan Presiden Jokowi untuk menjadikan Domba dan kambing
sebagai salah satu sumber protein hewani selain ayam  dan sapi, saya berpandangan, ajakan tersebut perlu dikaji ulang.
Pertama, mari kita lihat dari sudut konsumen. Secara universal, baik di amerika , Eropa maupun Asia, domba/kambing bukan sebagai penyedia protein hewani, cuma ada satu saja yang menjadi menu di tingkat resto yaitu lambchop atau di  negara tertentu juga terdapat menu Kebab. Di Indonesia sendiri domba/kambing sebatas sate, gule dan sop.

 

 

Kedua, kita lihat dari sudut industri. Di tingkat industri, belum ada upaya pembibitan (breeding) maupun  budidaya secara komersial sebagai penghasil daging untuk konsumsi harian.
Pemeliharaan domba skala industri hanya diperuntukan sebagai penghasil wool, sedangkan kambing tertentu (Etawa) sebagian diperuntukan sebagai penghasil susu kambing.
Belum ada penelitian yang mendalam untuk bisa mengetahui parameter-parameter sebuah industri peternakan domba/kambing yang feasible. Parameter tersebut adalah pencapaian berat hidup, Ratio Karkas (carcass ratio); ADG (Average Daily Gain/pertambahan berat badan per hari); Feed intake;Feed Convertion rate(ratio jumlah  pakan/1kg penambahan brt badan):calving easiness (kemudahan kelahiran):feed & health management.

Sementara itu  penelitian sejenis untuk usaha peternakan ayam dan sapi sudah demikian maju di berbagai negara.

Karena hal-hal tersebut diatas, bisa disimpulkan bahwa hingga saat ini, di negara-negara maju, baik pemerintah  maupun swasta, belum tertarik mengembangkan industri domba/kambing layaknya sapi atau ayam,baik melalui pengembangan genetika maupun rekayasa mutu pakan, sehingga, tidak ada bibit unggul yang dapat  meningkatkan mutu bibit domba/kambing lokal sebagai penghasil daging dengan harga yang cukup murah dan ketersediannya terjamin sepanjang tahun.

Oleh karena itu, Target pencapaian Swasembada daging pada 9-10 tahun yang akan datang, tidak bisa mengandalkan domba kambing. Biarlah domba kambing sebagai bagian kecil dari industri kuliner saja, bukan sumber protein harian yang utama, karena harganya akan menjadi mahal.

Tetaplah bertumpu pada sapi dan ayam sebagai sumber protein keluarga Indonesia. Meskipun harga sapi sekarang tergolong mahal, jika dikelola serius dengan meniru beberapa negara yang berhasil mengembangkan sapi, kelak Indonesia dapat mencapai swasembada daging sapi.

Pengalaman saya berkunjung ke beberapa negara yang berhasil mengembangkan sapi, saya menyimpulkan, upgrading sapi Lokal (Brahman cross/BX atau Peranakan Ongole/PO) dengan  Bibit Unggul lain misalkan Galician Blonde lebih layak sebagai program untuk menyediakan daging yang berkualitas dan terjangkau.

Soal sumber protein hewani utama masyarakat Indonesia, yang saat ini masih layak dikembangkan adalah ayam dan sapi. Yang lainnya, seperti domba dan kambing hanya pelengkap saja.

Olan Sebastian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *