Seorang pengusaha keturunan Tionghoa kelahiran Jakarta, Desember 66 tahun yang lalu. Selama berkiprah sebagai pengusaha yang banyak berhubungan dengan Cendana, ia bukan termasuk pengusaha yang terkenal saat itu.
Menurut riwayat hidup nya ia bertemu dengan Buya Hamka dan Adam Malik (Wakil Presiden) pada tahun 1981, lalu dituntun untuk menjadi Mualaf, berubah nama menjadi Yusuf Hamka.
Beberapa kali perkara Perdata dengan Pemerintah.
Baru-baru ini di masa hangat-hangatnya PILKADA..terutama di JAKARTA Yusuf Hamka oleh Partai pengusungnya mendeklarasikan dirinya untuk disebut “BABAH ALUN”. Hal yang sangat menarik karena panggilan”BABAH” sebenarnya sangat memalukan dan “MENJIJIKAN”. Nyaris TIDAK ADA yang mau MENYEMATKAN dirinya untuk dipanggil “BABAH”…apalagi pada era ORDE BARU dimana semua yang bernama 3 huruf (nama tionghoa dengan disertai nama keluarga/she!) saat itu harus mengganti nama nya dengan nama Indonesia. Salah satunya Lim Siao Liong menjadi Sudono Salim.
Lalu mereka memanggil orang tuanya dengan sebutan “papa-mama…papi-mami”…tidak ada atau jarang yang memanggil “BABAH”…atau..”Ayah”….

Ada cerita yang mirip dengan BABAH ALUN. Alkisah, ada seorang anggota pemadam Kebakaran..dulu disebut “BRANDWEER”….lahir bulan Agustus tahun 1924..di Jakarta. Ia anak seorang tukang cetak undangan yang memiliki mesin cetak original buatan Jerman. Namanya Khouw Teng San sering dipanggil Babah Tong, tingggal di depan Cibunar (Jl.Jembatan Lima,sekitar Roxy saat itu). Saat masuk sebagai anggota Brandweer tahun 1943 (usia 19 tahun), karena memiliki pendidikan di sekolah Belanda untuk orang-orang Indonesia (HIS)..selepas lulus HIS….beliau begitu bangga….karena memakai seragam “Brandweer”..beliau satu-satunya remaja Tionghoa yang menjadi anggota Brandweer bernama Khouw SIN Hok.
Dan saat dewasa, menurut cerita orang tua, beliau tertarik dengan seorang seorang wanita Tionghoa kelahiran Benteng, sering disebut Chin-Ben (China Benteng) yang tidak berpendidikan ,tinggal bersama kakak perempuanjya di Petojo Barat dan berkeliling menjajakan kueh2 basah di seputaran brandweer..dan akhirnya sepakat untuk membina rumah tangga.
Tahun 1949, lahir anak pertama….dan seterusnya..setiap selang 2 tahun lahir anak kedua sampai anak ke sembilan…menurut orang dulu..ada pepatah”banyak anak….banyak rejeki”. Apalagi pegawai negeri…dapat jatuh beras total 115kg/bulan..walaupun beras pembagian…yg kualitasnya jauh dari harapan bahkan harus ditampi(diayak) sebelum dimasak untuk menghilangkan kerikil2 yg ada(sering sampai 10%).
Meniti karier dari seorang anggota biasa..merambat naik hingga komandan wilayah..menyebabkan beliau yang hidup sekeluarga di asrama brandweer di Jl. ketapang (dekat pabrik Gas)….disegani di lingkungan anggota pasukan berani mati..pantang pulang sebelum padam…bahkan anak2pun yg lahir dan besar di asrama itu..sangat mengenal beliau…bahkan saat beliau berkeliling di seluruh asrama…orang tua dr anak2 itu selalu…merujuk..dan bilang”ada BABAH Hok…ada BABAH Hok..ayo ..yang gak mau tidur siang..nanti dilaporkan ke babah Hok”….
Seorang komandan brandweer bernama Khouw SIN Hok menjadi terbiasa dipanggil “Babah Hok” di lingkungan asramanya…demikian juga dengan anak-anak kandungnya…bahkan mama (panggilan “ibu”!) sering bilang “Minta sono sama Babah loe…kalau mau jajan”.
Itulah sekelumit cerita pendek perihal kata”BABAH”…yang ada sedikit perbedaan antara “BABAH HOK”..sering juga disebut ASNAWI (Asli Cina Betawi) &”BABAH ALUN”…

BABAH HOK..Tetap bangga dipanggil Babah oleh anak2 kandung nya dan anak2 yg hidup di asrama brandweer saat itu dan memiliki kesan yang mendalam bagi anak2 yg mendapat perhatian dan bimbingan, selain mencoba MEMPERTAHANKAN BUDAYA TIONGHOA di tengah2 Gempuran Orde Baru hingga dikirim surat oleh 3 orang gubernur (Ali Sadikin,Tjokro Pranolo & Wijogo Atmodarminto) untuk mengganti nama, namun hingga akhir hayatnya beliau tetap bernama”KHOUW SIN HOK”…dan berbeda dengan “BABAH ALUN”….yang disematkan nama itu oleh ketua umum sebuah Partai berlambang Pohon Beringin..untuk dijadikan Tag line Unik…menjelang Pilkada 2024..
(Bintaro,27juli’2024@09.20)